Jakarta menyimpan berbagai permata sejarah yang tersembunyi, salah satunya adalah Kampung Tugu. Terletak di kawasan Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, Kampung Tugu dikenal sebagai pemukiman keturunan Portugis tertua yang ada di Indonesia. Kehadiran masyarakat Tugu berawal dari komunitas budak Kristen asal Portugis dan Malaka yang kemudian dibebaskan oleh VOC pada abad ke-17. Oleh pihak Belanda, kelompok keturunan Portugis ini diberi nama Mardijkers. Setelah masa kemerdekaan, komunitas ini mendiami sebuah kampung yang hingga kini dikenal luas sebagai Kampung Tugu.
Gereja Tugu dan Pemakaman Tua Sebagai pusat kehidupan spiritual dan sejarah, masyarakat Kampung Tugu memiliki sebuah bangunan bersejarah bernama Gereja Tugu atau GPIB Tugu. Gereja ini dirancang oleh Justinus van der Vinch dan mulai dibangun pada tahun 1744 hingga selesai pada tahun 1747. Pada masa lampau, bangunan gereja ini menghadap langsung ke arah Sungai Gomati yang berfungsi sebagai jalur transportasi utama. Gereja ini juga memiliki ciri khas unik, yaitu sebuah lonceng tua peninggalan budaya Portugis yang selalu dibunyikan setiap kali ibadah akan dimulai. Di dalam kompleks gereja yang sama, terdapat area pemakaman yang menjadi tempat peristirahatan masyarakat keturunan Portugis. Pemakaman bersejarah ini berisi makam-makam tua yang masih mencantumkan nama-nama keluarga Portugis sejak ratusan tahun lalu.
Keroncong dan Tarian Noni Tugu Kampung Tugu sangat identik dengan kesenian musik Keroncong Tugu yang telah berkembang sejak abad ke-17 atau warisan sejak tahun 1661. Musik ini dimainkan dengan instrumen yang khas, antara lain macina, prunga, guitera, cello, contrabass (bass betot), rebana, dan biola. Kehebatan Keroncong Tugu telah diakui secara luas, bahkan pernah mendapatkan kesempatan untuk tampil di Istana Presiden hingga pentas di luar negeri.
Melengkapi keindahan musiknya, Kampung Tugu juga memiliki Tarian Noni Tugu yang gerakannya dipengaruhi oleh budaya Portugis dan Melayu. Tarian ini umumnya dibawakan oleh penari perempuan yang menampilkan gerakan lincah nan ceria dengan iringan alunan Keroncong Tugu.
Masyarakat Kampung Tugu masih menjaga erat tradisi warisan leluhurnya, di antaranya:
Tradisi Rabo-Rabo: Tradisi ini dirayakan pada perayaan tahun baru setiap tanggal 1 Januari. Dalam praktiknya, masyarakat akan berjalan keliling kampung dari rumah ke rumah sembari bernyanyi, menari, dan bermain musik Keroncong. Secara etimologis, nama "Rabo-Rabo" diambil dari bahasa Portugis yang memiliki arti "mengekor", merujuk pada rombongan panjang masyarakat yang berjalan bersama.
Tradisi Mandi-Mandi: Tradisi ini biasa diselenggarakan pada hari Minggu pertama di awal tahun. Mandi-Mandi merupakan tradisi saling memaafkan yang disimbolkan dengan aksi saling menaburkan atau memberikan bedak sebagai tanda hati yang bersih. Tradisi ini juga senantiasa diiringi oleh musik Keroncong Tugu.
Identitas yang Sempat Berjaya Pada masa lampau, masyarakat Tugu berkomunikasi menggunakan bahasa Kreol Tugu atau yang juga disebut sebagai Bahasa Papia Tugu. Bahasa ini lahir dari percampuran antara bahasa Portugis dengan bahasa lokal atau Melayu sejak abad ke-17. Walaupun penggunaannya saat ini sudah sangat jarang, jejak bahasa ini masih bisa dipelajari dan ditemukan dalam lirik lagu tradisional Tugu berjudul "Gatu Matu". Contoh kosa kata bahasa Kreol yang tercatat adalah "Yo Kere Bebe" yang bermakna "Saya mau minum".
Kuliner di Kampung Tugu adalah manifestasi sempurna dari perpaduan cita rasa budaya Portugis, Betawi, dan lokal. Beberapa sajian khas yang patut dicoba antara lain:
Gado-Gado Siram: Hidangan ini terdiri dari sayur-sayuran segar. Sayuran ini disajikan dengan siraman saus kacang lezat yang diolah menggunakan racikan rempah-rempah spesial.
Pindang Serani: Menu ini menggunakan bahan dasar ikan bandeng. Ikan tersebut dimasak bersama kuah kecap segar dan dicampur dengan bumbu sangrai yang menghasilkan aroma harum.
Kue Pisang Udang: Camilan ini dibuat dari bahan dasar pepaya muda, udang segar, dan gula. Bahan-bahan tersebut dibungkus di dalam daun pisang sehingga menghasilkan perpaduan cita rasa manis dan gurih.
Ketan Unti: Merupakan salah satu penganan atau makanan tradisional rumahan yang khas dari masyarakat Tugu.
Kampung Tugu bukan sekadar permukiman biasa, melainkan pilar penting dari sejarah keragaman di Jakarta. Pelestarian budaya ini membuktikan bahwa nilai-nilai sejarah dan identitas budaya mampu bertahan menembus batas modernisasi zaman. (Feriyanto)
