Pemerintahan
Unit Sekretariat Kota
05 Agustus 2026 78

Kecamatan Tanjung Priok

Kominfotik-Ikhwan

Penulis

Tanjung Priok adalah salah satu kecamatan di Kota Administrasi Jakarta Utara, Provinsi DKI Jakarta, yang namanya dikenal luas hingga ke seluruh Indonesia karena menjadi lokasi Pelabuhan Tanjung Priok — pelabuhan tersibuk dan paling penting di Indonesia. Lebih dari sekadar kawasan pelabuhan, Tanjung Priok memiliki sejarah panjang yang membentang dari era prasejarah, masa kolonial Belanda, hingga peristiwa-peristiwa penting pasca-kemerdekaan yang mewarnai perjalanan bangsa.

1. Profil Wilayah

1.1 Letak Geografis dan Administratif

Kecamatan Tanjung Priok terletak di posisi sekitar 6,12° Lintang Selatan dan 106,87° Bujur Timur, di pesisir utara Jakarta yang menghadap langsung ke Teluk Jakarta/Laut Jawa. Secara administratif, batas-batas wilayah kecamatan ini adalah:

Utara: Teluk Jakarta / Laut Jawa

Timur: Jalan Tol Wiyoto Wiyono dan Kali/Sungai Sunter, berbatasan dengan Kecamatan Koja

Barat–Selatan: Kali Japat, Kali Ancol, kawasan bekas Bandara Kemayoran, serta Jalan Sunter Jaya dan Jalan Sunter Kemayoran

Luas wilayah Kecamatan Tanjung Priok tercatat berkisar antara 22,27–25,1 km², tergantung sumber data, atau setara sekitar 17% dari total luas Kota Administrasi Jakarta Utara. Wilayahnya relatif datar dengan ketinggian 0–1 meter di atas permukaan laut, sehingga sangat kental dengan karakter kawasan pesisir/pelabuhan.

1.2 Pembagian Wilayah (Kelurahan)

Kecamatan Tanjung Priok terbagi menjadi 7 kelurahan, yaitu:

  1. Tanjung Priok

  2. Kebon Bawang

  3. Sungai Bambu

  4. Papanggo

  5. Warakas

  6. Sunter Agung

  7. Sunter Jaya

1.3 Kependudukan

Berdasarkan data terakhir yang tercatat (2020), jumlah penduduk Kecamatan Tanjung Priok mencapai 418.014 jiwa, terdiri dari 210.987 laki-laki dan 207.127 perempuan, dengan kepadatan penduduk sekitar 16.641 jiwa/km² — salah satu yang tertinggi di Jakarta Utara. Angka ini meningkat dari 375.276 jiwa pada Sensus 2010.

Penduduk Tanjung Priok sangat multikultural, mencerminkan karakter kota pelabuhan yang sejak dahulu menjadi titik pertemuan berbagai etnis dan budaya. Berdasarkan data sensus, komposisi suku didominasi oleh Jawa, Betawi, Batak, dan Sunda, disusul kelompok Minangkabau, Tionghoa, Bugis, Manado (Minahasa), Ambon, dan berbagai suku lainnya. Keragaman ini juga tampak dalam komposisi agama dan kepercayaan warganya.

1.4 Ekonomi dan Infrastruktur

Denyut nadi ekonomi Tanjung Priok tidak lepas dari keberadaan Pelabuhan Tanjung Priok, yang menangani lebih dari separuh lalu lintas kargo trans-shipment nasional dan menjadi pusat distribusi utama barang untuk Jakarta serta Jawa Barat. Pada tahun 2019, pelabuhan ini bahkan tercatat sebagai pelabuhan peti kemas tersibuk peringkat ke-22 di dunia. Proyek perluasan New Priok (Kalibaru) dirancang untuk mendongkrak kapasitas pelabuhan dari sekitar 5 juta menjadi 18 juta TEUs per tahun.

Selain pelabuhan, kawasan ini ditopang jaringan jalan arteri utama seperti Jalan Yos Sudarso, Jalan RE Martadinata, dan Jalan Enggano, serta akses tol Wiyoto Wiyono dan Sedyatmo/Jalan Tol Akses Tanjung Priok yang terhubung ke Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR). Transportasi umum di kawasan ini dilayani bus AKAP, Transjakarta (BRT), MikroTrans Jak Lingko, angkot, mikrolet, dan KRL Commuter Line, dengan Stasiun Tanjung Priok sebagai salah satu titik bersejarahnya.

2. Sejarah Kecamatan Tanjung Priok

2.1 Asal-Usul Nama

Nama "Tanjung Priok" berasal dari gabungan dua kata: tanjung, yang berarti daratan yang menjorok ke laut, dan priok (periuk), yaitu semacam wadah/panci masak dari tanah liat yang dahulu menjadi salah satu komoditas perdagangan penting di wilayah tersebut sejak zaman prasejarah.

Ada pula legenda rakyat yang berkembang di masyarakat mengenai asal-usul nama ini, terkait dengan kisah seorang Habib (dikenal sebagai "Mbah Priok") yang kapalnya karam diterjang ombak besar saat dikejar perahu Belanda. Dari muatan kapal yang hanyut, yang tersisa hanya sebuah periuk nasi dan sedikit beras — kisah inilah yang oleh sebagian masyarakat diyakini sebagai asal nama Tanjung Priok, sekaligus latar penghormatan pada makam Mbah Priok yang hingga kini masih diziarahi warga.

2.2 Masa Prasejarah dan Sebelum Kolonial

Jauh sebelum menjadi pelabuhan modern, kawasan ini sudah dikenal sebagai titik persinggahan pelayaran sejak masa penyebaran pengaruh Hindu di Nusantara. Sebelum dikembangkan sebagai area pelabuhan besar, lahan di kawasan ini merupakan tanah partikelir — yaitu tanah partikelir Tanjung Priok dan tanah partikelir Kampung Kodya Tanjung Priok.

2.3 Pembangunan Pelabuhan Era Kolonial (Akhir Abad ke-19)

Titik balik sejarah kawasan ini terjadi pada akhir abad ke-19. Pemerintah Hindia Belanda memutuskan mengembangkan Tanjung Priok sebagai pelabuhan baru pengganti Pelabuhan Sunda Kelapa (Pasar Ikan) yang dinilai sudah tidak mampu lagi menampung lonjakan lalu lintas perdagangan, terutama setelah dibukanya Terusan Suez yang mendorong pesatnya arus kapal-kapal besar ke Hindia Belanda.

Pembangunan pelabuhan baru dimulai pada 1877, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johan Wilhelm van Lansberge (1875–1881). Lokasinya dipilih sekitar 9 km di sebelah timur pelabuhan lama. Pelabuhan Tanjung Priok tercatat sebagai pelabuhan laut dalam pertama di Hindia Belanda tempat kapal-kapal besar dapat bersandar, memuat batu bara, dan menjalani perbaikan di dok kering.

Berbagai fasilitas pendukung pun dibangun untuk melengkapi fungsi pelabuhan baru ini, di antaranya dok perbaikan kapal berkapasitas 4.000 ton serta Stasiun Tanjung Priok, yang diresmikan pada tahun 1914 dan terhubung dengan jaringan kereta api yang sudah ada. Sejak saat itu, Tanjung Priok tumbuh dari sekadar perkampungan nelayan sederhana menjadi kawasan pelabuhan komersial yang ramai dan menjadi pintu gerbang utama perdagangan maritim Batavia.

2.4 Peristiwa Tanjung Priok 1984

Salah satu babak paling kelam dalam sejarah kawasan ini adalah Peristiwa (Tragedi) Tanjung Priok yang terjadi pada 12 September 1984, di masa pemerintahan Orde Baru.

Latar belakang. Pemicu awal bermula dari ketegangan antara warga dan aparat terkait kebijakan Asas Tunggal Pancasila yang diwajibkan pemerintah Orde Baru bagi seluruh organisasi, termasuk organisasi keislaman. Di tengah situasi itu, para penceramah di masjid dan musala kawasan Tanjung Priok kerap menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, termasuk soal larangan berjilbab bagi siswi dan pembatasan ceramah tanpa izin.

Pada 7 September 1984, seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa) mendatangi Musala As-Sa'adah di Gang IV, Koja, Tanjung Priok, untuk meminta warga menurunkan poster dan pamflet yang dianggap bermuatan kritik terhadap kebijakan Pancasila. Permintaan ini ditolak warga. Situasi kian memanas ketika aparat kembali datang beberapa hari kemudian dan menyita pamflet secara paksa, memicu kemarahan warga setempat.

Puncak kejadian. Ketegangan ini berujung pada penangkapan sejumlah warga dan tokoh masyarakat. Upaya negosiasi oleh tokoh masyarakat, Amir Biki, untuk membebaskan mereka yang ditahan tidak membuahkan hasil. Pada malam 12 September 1984, ribuan massa melakukan aksi turun ke jalan (defile) sembari merusak sejumlah bangunan, dan berujung bentrok dengan aparat keamanan bersenjata lengkap yang menghadang mereka. Bentrokan tersebut berakhir dengan aparat melepaskan tembakan ke arah massa.

Jumlah korban. Angka pasti korban jiwa dalam peristiwa ini hingga kini masih menjadi perdebatan. Pemerintah Orde Baru saat itu melalui Panglima ABRI menyebut angka resmi berkisar 18–33 orang tewas dan puluhan luka-luka, sementara berbagai lembaga kemanusiaan dan organisasi advokasi HAM menyebut jumlah korban jauh lebih besar, bahkan disebut mencapai ratusan orang.

Proses hukum dan penyelesaian. Peristiwa ini kemudian dikategorikan sebagai salah satu pelanggaran HAM berat pada masa Orde Baru. Setelah Soeharto lengser pada 1998, gerakan advokasi hak asasi manusia mendorong penyelidikan ulang, dengan sejumlah kelompok korban dan keluarga korban dibentuk untuk memperjuangkan keadilan. Proses islah (rekonsiliasi) dilakukan pada 2001, dan pengadilan atas sejumlah tersangka, termasuk mantan komandan Kopassus, digelar pada 2003. Meski demikian, hingga puluhan tahun berselang, banyak pihak menilai penyelesaian kasus ini belum tuntas dan menuntut pertanggungjawaban negara yang lebih penuh kepada korban dan keluarganya.

2.5 Perkembangan Kontemporer

Memasuki era modern, Tanjung Priok terus berkembang sebagai simpul logistik nasional. Berbagai proyek infrastruktur besar dijalankan untuk mendukung fungsi pelabuhan, termasuk perluasan Pelabuhan Kalibaru/New Priok serta pembangunan jaringan jalan tol akses pelabuhan. Pada November 2011, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bahkan meluncurkan paket wisata kereta api pertama di kota ini yang melintasi kawasan bersejarah Tanjung Priok, sebagai upaya menghidupkan potensi wisata sejarah sekaligus mengurangi kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut.

3. Penutup

Kecamatan Tanjung Priok adalah cermin perjalanan panjang Jakarta sebagai kota pelabuhan: dari titik singgah pelayaran prasejarah, pelabuhan komersial rancangan kolonial Belanda, hingga saksi salah satu tragedi kemanusiaan penting dalam sejarah Indonesia modern. Kini, di tengah statusnya sebagai jantung logistik maritim nasional, Tanjung Priok tetap menyimpan lapisan sejarah dan keragaman sosial yang menjadikannya salah satu kawasan paling khas di Jakarta Utara.

Catatan: Data luas wilayah dan jumlah penduduk dapat bervariasi antar sumber karena perbedaan tahun pendataan dan metode pengukuran. Artikel ini disusun dari berbagai sumber publik terkini per Agustus 2026.

Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Utara, Kecamatan Tanjung Priok Dalam Angka* (edisi terbaru).

Badan Pusat Statistik Kota Administrasi Jakarta Utara, Jakarta Utara Dalam Angka.

  • Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara.

  • PT Pelabuhan Indonesia (Persero).

  • Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

  • Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), dokumentasi Peristiwa Tanjung Priok 1984.

Tags
#Tanjung Priok
Bagikan Artikel
Berita Populer Lihat Semua

Perkuat Pengawasan Obat dan Makanan, Wali Kota Jakarta Utara Terima Audiensi BPOM

19 Agustus 2026

Senyum Para Veteran di Primadona Jakut, Penghormatan untuk Pejuang Kemerdekaan

21 Agustus 2026

Bukan Sekadar Bantuan, Sudin KPKP Jakut Bekali Nelayan dengan Ilmu dan Sarana Usaha

20 Agustus 2026
Artikel Populer Lihat Semua
Belum ada artikel
Event Terbaru Lihat Semua
AGU202026

Penyerahan SK Pensiun TMT 1 September 2026

Ruang Fatahillah Gedung P Lantai 2 Kantor Walikota Kota Administrasi Jakarta Utara 08.00 - 12.00 WIB
Event
AGU142026

Hexagon The Nusantara Port Market

Pasar Hexagon, Kampung Aquarium, Penjaringan, Jakarta Utara 15.00 - 21.30 WIB
Event
AGU132026

Bimbingan Teknis Penguatan Kapasitas Digital Ekonomi Kreatif

Sunlake Waterfront Resort & Convention Jakarta 08.30 - 15.35 WIB
Event