Jakarta Utara — Upaya percepatan penurunan stunting di Kecamatan Pademangan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya diwujudkan melalui Pertemuan Klenting Puspa Part 5 yang dilaksanakan pada Rabu, 7 Oktober 2026, mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai, bertempat di RPTRA Patimura, Kelurahan Pademangan Timur, Kecamatan Pademangan, Kota Administrasi Jakarta Utara.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Puskesmas Pademangan, dr. Muhamad Nur Rahmat R., M.M., sebagai bagian dari penguatan komitmen bersama dalam melanjutkan intervensi terhadap permasalahan stunting. Pertemuan ini menjadi ruang koordinasi antara unsur kesehatan, pemerintah wilayah, mitra kolaborasi, pengelola program, dan Posyandu untuk memastikan upaya penurunan stunting tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Cahyo selaku Kepala Seksi Kesejahteraan Rakyat Kecamatan Pademangan. Kehadiran unsur pemerintah kecamatan dalam kegiatan tersebut memperkuat pentingnya dukungan lintas sektor dalam penanganan stunting, mengingat persoalan pertumbuhan dan perkembangan anak tidak hanya berkaitan dengan pelayanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, lingkungan, pemenuhan gizi, pendampingan, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Dalam rangkaian pertemuan, Lurah Pademangan Timur Khenny Hutagaol turut memberikan arahan dengan menekankan pentingnya mempertahankan kepedulian dan memperkuat kolaborasi melalui intervensi yang dilakukan secara bersama-sama dalam upaya menurunkan stunting. Pesan tersebut menempatkan kolaborasi bukan sekadar sebagai kegiatan seremonial, tetapi sebagai kerja berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan pemerintah, tenaga kesehatan, kader, mitra, dan masyarakat.
Pertemuan Klenting Puspa Part 5 melibatkan unsur Kecamatan Pademangan, Kelurahan Pademangan Timur, Puskesmas Pademangan, PLKB Pademangan Timur, PT Pembangunan Jaya Ancol, PT Frisian Flag Indonesia, Yayasan Filomant, penanggung jawab Jawab Klaster 2, penanggung jawab Klenting Puspa Kedai 1, penanggung jawab Promkes dan PPSM, serta unsur Posyandu RW 10 dan RW 12. Keterlibatan berbagai pihak tersebut menunjukkan pendekatan kolaboratif yang menjadi karakter utama Klenting Puspa.
Secara substantif, Klenting Puspa dikembangkan sebagai program kolaborasi intervensi penurunan stunting di Kecamatan Pademangan. Dalam implementasinya, program ini sebelumnya telah mengembangkan pendekatan seperti pencatatan dan pemantauan kondisi balita, pemberian makanan tambahan berbasis protein hewani, kegiatan pos gizi, serta pemantauan asupan makanan balita melalui komunikasi antara orang tua dan tenaga kesehatan.
Pendekatan tersebut penting karena penanganan stunting membutuhkan kesinambungan antara identifikasi kondisi anak, intervensi gizi, pemantauan pertumbuhan, edukasi keluarga, dan evaluasi perkembangan. Program Klenting Puspa sejak awal juga dibangun melalui kolaborasi Puskesmas Pademangan dengan berbagai mitra. PT Pembangunan Jaya Ancol, misalnya, sebelumnya terlibat dalam dukungan pemberian makanan tambahan bagi balita melalui program tersebut.
Pada Klenting Puspa Part 5, semangat kolaborasi itu kembali diperkuat. Pertemuan tidak hanya menjadi forum koordinasi, tetapi juga menjadi momentum untuk memastikan bahwa intervensi menyentuh langsung kebutuhan balita dan keluarga. Salah satu rangkaian kegiatan diwujudkan melalui penyerahan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) kepada balita sebagai bentuk dukungan terhadap pemenuhan asupan gizi dalam proses pendampingan.
Pemberian PMT dalam konteks intervensi stunting bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Pengalaman pelaksanaan Klenting Puspa sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan makanan bergizi berjalan bersama dengan pemantauan pertumbuhan dan edukasi kepada keluarga. Intervensi protein hewani juga telah menjadi salah satu pendekatan yang digunakan dalam program Klenting Puspa di Pademangan.
Karena itu, perhatian tidak berhenti ketika PMT diserahkan. Pendampingan terhadap balita memerlukan konsistensi keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, pemantauan perkembangan oleh tenaga kesehatan dan kader, serta koordinasi ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan intervensi lanjutan. Di sinilah Posyandu memiliki posisi penting sebagai salah satu simpul pelayanan kesehatan berbasis masyarakat yang dekat dengan keluarga dan balita.
Keterlibatan Ketua Posyandu RW 10 Pos 1 dan Pos 2 serta Ketua Posyandu RW 12 Pos 1 dan Pos 2 semakin memperkuat jangkauan program pada tingkat lingkungan. Posyandu menjadi bagian penting dalam proses pemantauan karena berada dekat dengan masyarakat dan dapat mendukung kesinambungan komunikasi antara keluarga, kader, dan tenaga kesehatan.
Sementara itu, keterlibatan pemerintah kecamatan dan kelurahan memperkuat koordinasi kewilayahan, sedangkan dukungan dunia usaha dan lembaga mitra memperluas kapasitas kolaborasi. Pola inilah yang membuat penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan. Laporan keberlanjutan PT Pembangunan Jaya Ancol juga mencatat Klenting Puspa sebagai program kolaborasi penurunan stunting di Kecamatan Pademangan bersama Puskesmas Pademangan yang dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pertemuan Klenting Puspa Part 5 pada akhirnya membawa pesan bahwa penurunan stunting membutuhkan kerja bersama yang konsisten dan terukur. Kepedulian harus diterjemahkan menjadi intervensi, intervensi perlu disertai pemantauan, dan pemantauan harus dilanjutkan dengan evaluasi agar setiap anak yang menjadi sasaran memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.
