Administrasi & Kesra
Sekretariat Kota
7 September 2026 10

Di Cilincing, Seorang Ibu Berjuang Sendirian Menjaga Hidup Putrinya: Kisah Yasmin dan Harapan yang Tak Pernah Padam

Kominfotik-Redin

Penulis

Kominfotik JU - Di sebuah rumah sederhana di kawasan Kalibaru, Cilincing, pompa infus menjadi bagian dari keseharian. Di sana, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun terbaring lemah, menjalani hari-harinya dengan ketergantungan pada perawatan intensif.

Namanya Yasmin Naila Zazila, anak pertama dari dua bersaudara yang sejak empat tahun terakhir berjuang melawan penyakit autoimun. Di usianya yang masih belia, Yasmin tidak lagi menjalani hari seperti remaja seusianya. Ia lebih banyak berada di rumah, menjalani perawatan, kontrol rumah sakit, dan bergantung pada asupan khusus melalui selang NGT.

Di sampingnya, selalu ada sang ibu, Triulan Oktavianti (36), yang menjadi satu-satunya penopang utama dalam perjalanan panjang ini. “Saya sangat bersyukur… akhirnya ada yang datang”

Suara ibu Triulan sempat bergetar ketika menceritakan momen kedatangan Wali Kota Jakarta Utara ke rumahnya. Bagi sebagian orang mungkin itu kunjungan biasa, namun bagi keluarga kecil ini, itu adalah tanda bahwa mereka tidak benar-benar sendiri. “Alhamdulillah, seneng ada perhatian dari pemerintah buat anak saya. Karena selama ini anak saya 4 tahun tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujarnya pelan.

Ia tidak menutupi rasa lelah yang selama ini ia pendam. Empat tahun merawat anak dalam kondisi sakit berat membuatnya harus belajar bertahan di tengah keterbatasan. “Saya sangat bersyukur banget karena emang anak saya benar-benar butuh bantuan. Makanya alhamdulillah didatangi Pak Camat, Pak Wali datang,” tambahnya.

Bagi Triulan, hari-hari bukan lagi soal rutinitas biasa. Ia harus memastikan Yasmin tetap mendapatkan perawatan, obat, serta nutrisi yang cukup, meski kondisi ekonomi keluarga terbatas. “Kondisinya saat ini anak saya kan baru pulang dari rawat inap ya, karena udah kena ke sel otak. Dan masih harus perawatan, harus rutin minum obat, harus balik-balik ke rumah sakit untuk kontrol,” tuturnya.

Yang paling berat adalah kondisi gizi Yasmin yang sangat membutuhkan perhatian khusus. Di usia 14 tahun, berat badan Yasmin hanya sekitar 22 kilogram dan tidak bisa lagi makan secara normal. “Harus benar-benar full susu dari selang NGT…,” katanya lirih.

Bagi Triulan, harapan tidak lagi muluk. Ia tidak meminta lebih dari sekadar kesempatan agar anaknya bisa bertahan dan mendapatkan perawatan yang layak.

Ia mengaku bantuan dari pemerintah sangat berarti, terutama untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang tidak murah dan harus dipenuhi secara rutin. “Alhamdulillah berkat bantuan dari Pak Wali saya bisa memenuhi gizinya untuk anak saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kedatangan Wali Kota Jakarta Utara bersama jajaran pemerintah, PKK, Baznas, dan petugas kesehatan menjadi momen yang bukan hanya memberi sedikit ruang bernapas bagi keluarga ini.

Namun lebih dari itu, kisah Yasmin membuka mata bahwa masih ada warga yang berjuang dalam diam, menunggu uluran tangan untuk bisa melanjutkan hidup.

Di rumah kecil di Cilincing itu, harapan kini kembali tumbuh, bahwa Yasmin tidak hanya akan bertahan, tetapi juga suatu hari bisa kembali menjalani hidup seperti remaja lainnya: belajar, bermain, dan tersenyum tanpa batas perawatan medis.

Tags
#Suku Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik
Bagikan Berita