āKita kenal Pasar Senen, kita tahu Pasar Rebo⦠tapi pernah nggak sih kepikiran kemana āPasar Selasaā menghilang?ā
Di masa Batavia, pada era Gubernur Jenderal Joan Maetsuycker, pemerintah VOC pernah mengatur sistem pasar berdasarkan hari. Setiap wilayah memiliki jadwalnya sendiri yang kemudian melahirkan nama-nama kawasan seperti Pasar Senen dan Pasar Rebo yang masih kita kenal hingga sekarang.
Namun, tidak semua nama itu bertahan. Lalu⦠bagaimana dengan Koja? Banyak yang mengira Koja adalah āPasar Selasaā yang hilang. Tapi faktanya, tidak ada catatan sejarah yang benar-benar memastikan hal tersebut.
Justru, ada dua versi asal-usul nama Koja yang lebih sering dibicarakan. Versi pertama menyebutkan bahwa nama Koja berasal dari pohon koja yang dahulu banyak tumbuh di wilayah ini. Penamaan berbasis alam seperti ini memang cukup umum terjadi di berbagai daerah di Jakarta.
Namun, versi kedua terasa lebih kuat secara historis. Koja diduga berasal dari kata āKhojaā, yaitu sebutan bagi para pedagang asal India yang pernah menetap dan berdagang di kawasan ini sejak masa Batavia. Kehadiran mereka menjadi bagian penting dari dinamika perdagangan dan kehidupan sosial di wilayah pesisir Jakarta Utara.
Hal ini juga diperkuat dengan keberadaan kawasan seperti Kampung Tugu, salah satu permukiman tua yang masih menyimpan jejak budaya dan sejarah multikultural hingga saat ini. Dari sini terlihat bahwa Koja bukan sekadar nama wilayah. Ia adalah bukti bahwa sejak dulu, Jakarta - khususnya Jakarta Utara sudah menjadi ruang pertemuan berbagai budaya, identitas, dan bangsa.
Jadi, Koja bukan tentang hari dalam kalender. Tapi tentang siapa yang pernah datang⦠dan jejak yang mereka tinggalkan.
