Perekonomian & Pembangunan
Walikota Jakarta Utara
8 Mei 2026 100

Rorotan Gencarkan Pilah Sampah, 6,5 Ton Sampah Berhasil Dikurangi

Kominfotik-Admin

Penulis

Kominfotik JU – Gerakan pilah sampah di Kelurahan Rorotan, Kecamatan Cilincing, mulai menunjukkan hasil nyata. Berkat kolaborasi warga, pengurus RT/RW, kader lingkungan hingga pemerintah, volume sampah yang dikirim ke RDF Rorotan dan TPST Bantargebang berhasil ditekan hingga 6,5 ton dari total produksi sampah harian sekitar 40 ton.

Lurah Rorotan, Ahmad Fitroh menegaskan, persoalan sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Menurutnya, kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

“Pemilahan sampah di tingkat rumah tangga sangat penting karena sampah tidak bisa ditangani pemerintah saja. Masyarakat sebagai penghasil sampah memiliki kewajiban ikut mengolah dan memilah sampahnya sendiri,” ujarnya.

Ia mengatakan, kondisi daya tampung TPST Bantargebang yang semakin penuh menjadi alarm bagi seluruh pihak untuk mulai mengubah pola pengelolaan sampah dari sumbernya. Karena itu, Kelurahan Rorotan bersama Sudin Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Utara menggencarkan edukasi dan penyediaan sarana pendukung pemilahan sampah di lingkungan warga.

Berbagai fasilitas seperti ember organik, drop point, losida, komposter hingga bioreaktor disiapkan di lingkungan RT dan RW. Setiap RT bahkan memiliki dua hingga empat titik drop point untuk memudahkan warga membuang sampah organik yang sudah dipilah dari rumah.

“Sampah organik yang terkumpul kemudian dibawa ke TPS3R untuk diolah menjadi bubur pakan ternak seperti maggot, ayam, dan bebek. Jadi sampah tidak langsung dibuang ke RDF atau Bantargebang, tetapi dimanfaatkan kembali,” jelasnya.

Ahmad Fitroh menambahkan, gerakan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan masyarakat terhadap operasional RDF Rorotan agar sampah yang masuk sudah dalam kondisi terpilah dan kering sehingga dapat mengurangi dampak pencemaran maupun bau.

Upaya tersebut diperkuat melalui Instruksi Wali Kota Tahun 2025 serta Pergub Nomor 77 Tahun 2022 tentang pengelolaan sampah di tingkat RW. Seluruh elemen masyarakat seperti RT, RW, LMK, Dasawisma, Posyandu hingga Jumantik dilibatkan untuk melakukan edukasi secara masif kepada warga.

Sementara itu, Ketua RW 07 Kelurahan Rorotan, Idil Adha mengungkapkan, partisipasi warga kini telah mencapai sekitar 97 persen. Padahal saat program dimulai, tingkat keterlibatan warga hanya sekitar lima persen. “Awalnya banyak keluhan dari warga karena merasa sudah membayar iuran sampah tetapi masih diminta memilah. Namun setelah terus diberikan edukasi dan pemahaman, alhamdulillah sekarang hampir seluruh warga ikut bergerak,” katanya.

Ia menjelaskan, pengangkutan sampah organik dilakukan tiga kali dalam sepekan. Sampah yang telah dipilah kemudian ditimbang dan dikirim ke TPS3R maupun RDF dalam kondisi terpisah antara organik dan anorganik.

Menurutnya, gerakan pemilahan sampah bukan hanya berdampak pada pengurangan volume sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi sirkular di lingkungan warga melalui budidaya maggot, ternak bebek, ayam hingga ikan. “Harapannya tentu kesadaran warga terus meningkat. Jangan hanya semangat di awal, tetapi harus konsisten menjaga lingkungan,” tuturnya.

Terkait dengan hal itu, warga RT 004 RW 07 Kelurahan Rorotan, Tina mengaku program pemilahan sampah sangat membantu masyarakat. Ia menyebut, gerakan tersebut aktif berjalan sejak Januari dan diawali dengan sosialisasi dari pemerintah hingga kader lingkungan.

“Manfaatnya sangat terasa karena pengangkutan sampah jadi lebih mandiri dan sampah organik bisa dimanfaatkan menjadi pakan ternak. Tantangannya memang harus sabar mengedukasi warga, tetapi sekarang pengurangan sampah di TPS sudah mulai terlihat,” ungkapnya.

Ia berharap kesadaran masyarakat terus tumbuh karena persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama yang harus dimulai dari rumah masing-masing.

Bagikan Berita