(62-21) 4303111

News Article

Image

3R Dimulai dari Diri Sendiri, Wajah Baru Pengolahan Sampah DKI

KOMINFOTIK JU – Awal tahun 2020, tepatnya 1 Januari lalu masyarakat Ibukota kembali merasakan peringatan alam. Hujan dengan intensitas deras terjadi sepanjang malam pergantian tahun baru hingga pagi hari. Cuaca ekstrim itu berdampak terendamnya 136 titik pemukiman penduduk, taman, lapangan hingga ruas jalan. 

Beruntung Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tanggap dalam penanganan banjir itu sendiri maupun kepada warga terdampak. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat tak sekadar ucapan semata, namun direalisasikan sehingga masyarakat dapat merasakan manfaatnya. Kesedihan itu pun perlahan berganti dengan senyuman.

Akan tetapi pekerjaan rumah terbesar masih dihadapi warga Jakarta. Permasalahan sampah menjadi bom waktu jika tak segera diatasi bersama. Seakan tak berkaca pada peringatan alam sebelumnya, beragam jenis tumpukan sampah masih saja ditemui di setiap saluran maupun pintu-pintu air. Dahsyatnya lagi, siapapun yang melirik tumpukan sampah itu justru melengos begitu saja tanpa berpikir bahwa sampah itu bekas dirinya sendiri. 

# 3R (Reduce, Reusue, dan Recycle)

Pemerintah Kota Jakarta Utara kian menggencarkan sosialisasi pengurangan sampah di sumbernya. Salah satu kuncinya dengan menerapan konsep 3R (Reduce, Reuse dan Recycle) yang dimulai dari diri sendiri. Kunci ini diyakini menjadi solusi ampuh mengurangi pengiriman 7.600 ton volume sampah per hari ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat.

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Achmad Hariyadi mengatakan, warga Jakarta Utara harus 'move on' dari gaya hidup konvensional ke gaya hidup milenial yang menerapkan konsep 3R dalam kegidupan sehari-hari. 

Dimulai dari Reduse, yaitu mengurangi penggunaan bahan-bahan yang bisa merusak lingkungan seperti memilih produk kemasan yang dapat didaur ulang, mengindari pemakaian dan membeli produk yang menghasilkan sampah, dan mengurangi penggunaan bahan sekali pakai.

Lalu Reuse yang berarti menggunakan wadah berulang, seperti penggunaan tumbler, stainlees steel, dan membawa selalu kantong ramah lingkungan saat berbelanja.

Yang tak kalah penting Recycle. Masyarakat harus mampu memilah jenis sampah dan mendaur ulangnya. Ada dua jenis sampah yang mudah dipilah di sumbernya yakni sampah organik dan anorganik. Sampah organik dapat di daur ulang menjadi pupuk kompos yang berguna bagi kelangsungan hidup tanaman. Sedangkan sampah anorganik dapat didaur ulang yang hasilnya berpeluang menambah pundi-pundi penghasilan melalui bank sampah.

"Kedua jenis sampah (organik dan anorganik) ini sejatinya bisa menguntungkan bagi masyarakat itu sendiri. Produk kedua jenis hasil olahan sampah itu memiliki nilai jual. Atau bisa juga sebagai ladang amal jariah sedekah karena ada juga sejumlah tempat ibadah yang memiliki konsep pembangunan dari hasil jual bank sampah yang didirikannya," kata Hariyadi, saat ditemui di Kantor Walikota Jakarta Utara, Kamis (13/2).

# ASN Pelopor Pengurangan Sampah Bagi Masyarakat

Melalui Intruksi Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 107 Tahun 2019 Tentang Pengurangan dan Pemilahan Sampah di Lingkungan Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta, dipastikannya seluruh kantor Pemerintah Kota Jakarta Utara sudah menerapkan instruksi tersebut. 

Bak sampah pilah telah tersedia di kantor pemerintah tingkat kota, kecamatan, kelurahan hingga Unit Perangkat Kerja Daerah (UKPD). Terbaru, bak sampah pilah ini terdiri dari tujuh jenis sampah seperti sampah organik, kertas, e-waste, B-3, plastic, logam, dan residu.

Bahkan, kolaborasi dengan Inspektorat Pembantu Wilayah Kota Jakarta Utara telah dilakukan guna melayangkan sanksi teguran kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) maupun petugas yang tidak mengindahkan intruksi tersebut selama berada di lingkungan kantor pemerintahan.

"Intruksi ini menjadi contoh bagi masyarakat bahwa kami aparatur pemerintah sudah memulai pengurangan dan pemilahan sampah di sumbernya," jelasnya.

Intruksi ini juga diikuti oleh kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan pengelola Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Ketua Tim Penggerak PKK Kota Administrasi Jakarta Utara, Suni Sigit Wijatmoko mewajibkan seluruh kader, pengelola RPTRA hingga peserta kegiatan membawa tumbler dan wadah makan. 

"Mengurangi penggunaan sampah plastik sebagai wujud kepedulian kita terhadap kelestarian lingkungan. Dimulai dari diri sendiri kemudian ditularkan ke orang-orang di sekitar kita. Langkah kecil namun memberikan manfaat yang besar,” tutur Suni.

# Fenomena Bank Sampah

Eksistensi bank sampah sejatinya sudah ada sejak dahulu. Menengok ke belakang, eksistensi itu terlihat dengan tumbuhnya pengepul sampah. Satu per satu warga mulai memilah sampah bernilai ekonomis seperti plastik dan besi untuk dijual kepada pengepul tersebut. Namun sayangnya, si pengepul dianggap tidak cermat dalam pengolahan residu atau sisa pilah sampah.

Di Jakarta Utara, bank sampah telah banyak didirikan di kantor pemerintah, lingkungan warga, sekolah, hingga tempat ibadah. Yang menarik tak melulu berpenghasilan uang, nasabah juga bisa menukarkan hasil tabungan sampah berupa emas dan amal jariah.

Pengurus RW 03 Kelurahan Kelapa Gading Timur berkolaborasi dengan PT Pegadaian Persero mendirikan Bank Sampah Wijaya Kusuma. Hasil tabungan sampah nasabah dapat ditukar dengan emas. Dengan inovasi konsep ini, lingkungan tersebut mampu menyabet juara dalam Program Kampung Iklim Nasional 2019.

Salah satu yang unik yaitu Bank Sampah Masjid Al Mujahidin yang berlokasi di Jalan H. Sarwono, RT 09/08 Kelurahan Rawa Badak Selatan, Koja, Jakarta Utara. Alih-alih keterbatasan dana, pengurus masjid putar otak untuk kelangsungan pembangunan masjid tersebut. 

Warga sekitar diajak bersedekah sampah melalui bank sampah yang didirikan pada awal Januari 2019 lalu. Hasil tabungan sampah nasabah hanya dibalas dengan amal jariah karena nominal sampah yang dijual ke Bank Sampah Kecamatan Koja dibelikan bahan bangunan. Kini Masjid Al Mujahidin sudah berdiri tegap dua lantai meski masih dalam tahap penyelesaian pembangunan.

“Lebih gampang menyumbang sampah. Artinya, tidak semua warga bisa memberi uang. Yang dicari adalah sampah yang halal,” ungkap M. Sanuri, Ketua Program Bank Sampah Masjid Al Mujahidin.

# Wajah Baru Pengolahan Sampah

Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta tengah mendorong revisi Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 171 Tahun 2016 Tentang Pedoman Rukun Tetangga Dan Rukun Warga. Poin kewajiban RT/RW memilah sampah akan ditambahkan dalam revisi Pergub tersebut.

Achmad Hariyadi menjelaskan, langkah rencana revisi Pergub tersebut dimaksudkan sebagai wujud wajah baru pengolahan sampah DKI Jakarta. Setiap warga diwajibkan berperan aktif dalam pengolahan sampah dengan memilah sampah mulai dari rumah. Syukur-syukur sampah juga diolah sesuai dengan jenisnya.

Jadwal pengangkutan sampah pilah yang dilakukan petugas gerobak sampah turut diatur setiap harinya. Melalui kesepakatan hasil rembuk warga, Tempat Pembuangan Sementara (TPS) tidak menerima sampah jika tidak dipilah sebelumnya.

“Tidak ada lagi alasan warga yang berpikir sia-sia sampah yang sudah dipilah dari rumah akan tercampur di TPS. Penjadwalan sudah diatur sesuai dengan rembuk RW di setiap wilayah. Jadi yang selama ini pendekatannya adalah penanganan sampah, kita ubah di tahun 2020 ini menjadi wajah baru pengolahan sampah, yaitu sampah ditangani langsung di sumbernya,” paparnya.

Dia pun meminta kepada lurah dan camat se-Jakarta Utara untuk turut menggencarkan sosialisasi wajah baru pengolahan sampah hingga ke titik terkecil. Mengajak setiap pengurus RW mendirikan bank sampah agar warga mudah menerapkan perilaku pengurangan sampah di sumbernya.

“Kami juga mendorong petugas PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum) di setiap kelurahan untuk membuat suatu titik-titik rumah kompos. Rumah Kompos itu digunakan untuk menampung olahan sampah organik warga. Membantu rumah kompos yang ada di setiap RW,” tukasnya.